Friday, 10 January 2014

Kekuatan Seorang Ibu

Cerita ini berawal dari beberapa bulan yang lalu. Ketika itu saya bersama dengan ketiga teman saya pergi ke rumah salah seorang dosen wanita saya dengan tujuan untuk menjenguk anak beliau yang sedang sakit. Disana kami disambut dengan baik dan hangat sekali oleh ibu dosen (begitu saya memanggil). Selang beberapa lama kemudian mulailah obrolan yang membuat hati saya terenyuh dan tersadar akan sesuatu yang sangat saya lupakan selama ini. Di obrolan itu  saya mendengar sendiri cerita dari seorang dosen dan juga seorang ibu yang mangalami kejadian yang kurang meng-enakkan.

Sang ibu dosen bercerita bagaimana pengalamannya ketika ia mambawa anaknya pergi ke rumah sakit, saya tak bisa bilang apa penyakitnya karena saya terlalu sedih untuk menyebutkannya. Sang ibu dosen mengatakan pada keadaan seperti itulah seorang ibu haruslah kuat dan tabah menghadapi segala rintangan yang terjadi terutama yang terjadi terhadap anaknya. Ia pun berkata dikala anaknya sakit, ia harus menahan rasa sedihnya dan air matanya agar tidak keluar, dan digantikannya dengan rasa senang untuk menghibur sang anak, seketika itu pula di saat yang bersamaan ia pun harus memerhatikan suaminya yang sakitnya kambuh tapi tak separah penyakit anaknya.

Dalam keadaan seperti ini, ia harus berfikir dan mengambil keputusan cepat disaat genting ini, karena kalau bukan beliau siapa lagi. Lalu sang ibu dosen berfikir, bila ia terus larut dalam kesedihan siapa nantinya yang akan mengurusi anaknya dan suaminya selain ia. Maka dari itu, ia berusaha tabah dan kuat untuk menghadapi semuanya walaupun kenyataannya dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia tidak kuat untuk  menghadapi semuanya tapi ia memaksakan dirinya untuk bertahan. Sampai akhirnya pun ia berhasil untuk bersikap tabah dan kuat. Hingga akhirnya ia bisa bercerita kepada saya dan teman-teman saya, walaupun dalam keadaan berlinang air mata saat ia bercerita.

Dari cerita beliau dan dari setiap air mata yang keluar dari matanya saya tersadar bahwa peran seorang ibu dan istri amatlah penting di keadaan seperti itu. Itulah kekuatan seorang ibu dalam menghadapi setiap masalah yang menghadangnya. Selama sang ibu dosen bercerita, saya melihat sisi yang lain dari beliau. Karena biasanya saya di kampus hanya melihat beliau yang tegas, ramah, dan bahkan penuh canda. Tapi kali ini saya melihat beliau sebagai seorang ibu yang saat itu harus menemani anaknya dalam menghadapi masalah yang sedang mereka hadapi. Kekuatan seorang ibu begitu berarti bagi sang anak ketika saat seperti ini.

Setelah mendengar cerita sang ibu dosen saya tersadar bahwa peran seorang ibu dan seorang istri sangatlah penting di dalam sebuah keluarga. Walapun banyak orang yang berspekulasi dan mengatakan bahwa wanita itu terkadang lemah, lembut, dan kadang tidak bisa menahan rasa harunya. Tapi setelah mendengar cerita sang ibu dosen sontak spekulasi dari orang-orang itu menjadi tak berarti dan seolah isapan jempol belaka.
Saya sebagai seorang pria yang nantinya akan menjadi seorang suami dan ayah, tak kuasa menahan rasa haru disaat sang ibu dosen bercerita dengan semua celotehan sang ibu dosen yang ia berikan kepada kami. Saya berkata dalam hati saya, inikah kekuatan seorang ibu. Saya mencoba untuk menahan rasa haru itu jangan sampai saya mengeluarkan air mata, karena bukan itu tujuan saya dan teman-teman di kala itu. Tujuan saya dan teman-teman saya adalah untuk menghibur sang ibu dosen yang sedang tertimpa musibah. Akan gagal tujuan saya itu bila saya larut dalam rasa sedih.

Cerita sang ibu dosen di sore hari itu, mengingatkan saya akan kejadian sewaktu adik saya dirawat di rumah sakit. Lagi-lagi ibu yang berperan penting dalam menjaga dan merawat adik saya. Saya merasa ketabahan ibu saya di uji kala itu, dimana ia harus menerima anaknya kesakitan saat tubuh sang anak di pasang selang infus. Mungkin peran ibu saat itu sangat penting, tapi peran ayahpun tak kalah pentingnya juga. Sang ayah selalu mensupport sang anak dan sang ibu dari belakang.

Kekuatan seorang ibu terkadang melebihi kekuatan seorang ayah. Saya berfikir demikian karena membayangkan apa yang dialami oleh dosen wanita saya dan tentunya melihat kejadian sewaktu adik saya dirawat di rumah sakit. Kekuatan seorang ibu ini bukan berdasarkan kekuatan fisik, tapi dalam hal kekuatan batin dan perasaan. Ibu terkadang sulit ditebak, tapi itulah ibu. Itulah kekuatan seorang ibu yang amat dahsyat. Disaat seorang ibu itu dikabarkan oleh dokter ia memiliki janin dalam kandungannya, ia pasti akan sangat gembira sekali menyambut kedatangan sang jabang bayi. Namun ia harus membawa janin itu dalam perutnya kemanapun ia pergi selama 9 bulan, hingga akhirnya sang anak lahir ke dunia. Tak sampai disitu, sang ibu juga harus berjuang antara hidup dan mati dalam melahirkan anaknya. Maka dari itu selalu ingat jasa ibu anda masing-masing, jangan pernah anda mempermainkan seorang wanita, karena ia kelak akan menjadi seorang ibu dan bila anda mempermainkan wanita sama saja anda mempermainkan ibu anda. Kekuatan seorang ibu tak dapat kita kira dan tak disangka sangka seberapa besar kekuatannya, tak terlihat namun kadang dapat melebihi kekuatan seorang ayah.

Hanya sekedar berbagi, tidak lebih.

Sunday, 22 September 2013

Tanggung jawab yang besar

     
     Setiap orang kadang kala lupa akan tanggung jawab yang mereka dapatkan dan mereka hanya sibuk dengan meminta hak mereka dan tidak memperdulikan tanggung jawab mereka sendiri. Saya selalu ingat apa yang dikatakan Paman Ben (Paman Peter Parker) dalam film Spider-Man. Ia berpesan kepada Peter dalam wasiatnya yang sangat baik sekali menurut saya kepada Peter. Paman Ben berkata “Dalam kekuatan yang besar terdapat pula tanggung jawab yang besar pula” seperti itulah kiranya wasiat yang dikatakan Paman Ben saya tidak tahu secara persisnya tapi itulah yang selalu saya ingat hingga saat ini. 
     Yang dapat saya simpulkan dan mengambil garis besarnya dari wasiat itu adalah bahwa setiap orang yang mempunyai kekuatan besar ia tentunya mempunyai tanggung jawab yang besar pula akan kekuatannya itu. Bila kita ambil contoh dari kehidupan nyata pada saat ini yaitu bisa digambarkan orang yang mempunyai kekuatan yang besar itu seperti halnya orang yang mempunyai harta yang banyak dan juga mempunyai kekusasaan/tahta. Bersama harta dan kekuasaan itu terdapat tanggung jawab yang besar untuk orang yang mempunyainya.
     Tanggung jawabnya untuk menyumbangkan sebagian hartanya untuk orang-orang yang lebih membutuhkannya. Dalam Agama saya, dikatakan dalam sebuah wasiat dari Tuhan kepada utusan-Nya, dikatakan bahwa “Dalam setiap harta yang kita dapatkan terdapat pula sebagian harta orang yang lebih membutuhkan” oleh sebab itu kita sebagai orang yang mempunyai harta lebih harus menyumbangkannya kepada orang yang lebih membutuhkan, karena sebenarnya harta yang kita dapat itu hanya titipan dari Tuhan agar kita dapat menggunakannya untuk kehidupan kita dan ketika semua kebutuhkan kita sudah terpenuhi tidak ada salahnya untuk membaginya kepada orang yang lebih membutuhkan daripada kita, bukan malah bersenang-senang dan menghambur-hamburkan harta tersebut untuk hal-hal yang kurang mendatangkan manfaat untuk kita dan orang-orang disekitar kita.
     Singatnya seperti ini, kita telah diberikan hak kita oleh Tuhan dan setelah itu kita harus melaksanakan kewajiban kita setelah kita mendapatkan hak kita. Itu sedikit ulasan tanggung jawab terhadap harta, sekarang kita beralih ke ulasan tanggung jawab terhadap kekuasaan yang kita miliki. Kekusaan yang dimiliki seseorang terkadang membuat dirinya lupa untuk menggunakannya sebaik-baiknya. Anda harus ingat bahwa kekuasaan yang kita dapat tidak serta merta kita manfaatkan untuk kepentingan pribadi kita apalagi untuk merauk keuntungan dari kekuasaan ini. Itu akan berakibat sangat fatal terhadap kelangsungan karier dan kehidupan anda nantinya.
     Anda harus ingat bahwa setiap pembelian pasti ada pengembaliannya jadi berhati-hatilah dalam menggunakan kekuasaan yang anda miliki karena suatu saat apa yang anda lakukan hari ini pada orang lain, akan teralami juga kepada anda di lain kesempatan. Dua hal itu bisa dikatakan menjadi kekuatan besar yang dimiliki seseorang, masih banyak hal yang menurut saya bisa dibilang kekuatan yang besar dan semua itu memiliki tanggung jawab yang besar seperti apa yang di katakan oleh Paman Ben.



Tahap awal sebelum memulai bisnis

     Banyak orang yang ingin menjadi pebisnis dan meraup banyak keuntungan sesuai dengan yang diharapkan atau terkadang ingin jauh lebih banyak. Sebenarnya itu tidak benar dan tidak salah juga, hanya mendatangkan konsekuensi yang bisa anda tanggung nantinya. Terlepas akan hal itu, saya mempunyai dua orang kawan yang menggeluti bisnis kecil tapi dengan keuntungan yang bisa dibilang lumayan. Mereka memberikan arahan kepada saya bagaimana seharusnya sikap seorang pebisnis awal/pemula. Saya akan coba membagikan sedikit untuk anda, saran-saran yang diberikan kawan saya. 
     Saran datang dari kawan saya yang pertama, kawan saya ini lulusan suatu kampus ternama di Bogor. Dia berkata kepada saya bahwa bisnis itu adalah suatu pembelajaran bukan hanya sekedar mencari uang/keuntungan materialistis belaka. Dia juga berpesan kepada saya yang masih bodoh dan awam ini untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya dari manapun dan dari siapapun, karena ilmu itu tidak hanya di dapatkan dari sekolah/institusi pendidikan saja baik yang formal maupun informal tetapi dari manapun. Ilmu itu laksana air yang tercecer dan jatuh dari sekeliling kita dan tugas kita adalah hanya tinggal menyediakan tempat yang sangat besar dan bersih untuk menampung air-air itu hingga kelak bisa kita gunakan untuk kita sendiri ataupun dalam rangka membantu orang lain. Banyak orang yang mungkin tidak sadar akan hal ini, karena kebanyakan dari mereka hanya memandang bisnis sebagai ladang mencari uang yang amat banyak, tanpa ia tahu uang sebanyak itu akan digunakan untuk apa nantinya. 

     Maka dari itu bisnis bukanlah sekedar pemuas nafsu dan mencari uang saja, karena bila anda mencari uang saja dalam berbisnis maka bisnis yang anda jalani tidak akan berkembang dan mungkin lambat laun akan bangkrut. Tidak percaya? Lakukan sendiri dan jangan salahkan saya bila itu terjadi kepada anda. Sebetulnya banyak hal yang bisa kita dapatkan selain uang dari berbisnis. Itulah salah satu saran dan arahan dari kawan saya yang pertama. Lain halnya dengan arahan teman saya yang kedua lulusan kampus biru di salah satu universitas terkemuka di kota Yogyakarta. Dia berpesan kepada saya bahwa ketika kita memutuskan untuk terjun ke dunia bisnis. Lota harus melepaskan belenggu-belenggu yang mengikat diri kita. Belenggu itu salah satunya adalah dendam dan rasa ingin dipuji, dihormati, disegani atau bahkan di elu-elukan. Kawan saya mengatakan bahwa itu semua disebut “Mental Block”. Mental Block adalah suatu rasa keinginan kita untuk mencapai seustu yang “percuma” karena untuk apa kita memendam rasa dendam dari masalah yang sudah lama berlalu memang kenyataannya semua rasa sakit yang anda rasa terkadang sukar untuk hilang dalam sesaat atau dalam waktu yang singkat tetapi tidak ada salahnya untuk mencoba menghilangkannya. 
     Semuanya mungkin tidak hilang begitu saja, butuh proses, kerja keras dan tekat yang bulat untuk menghilangkannya. Kenapa semua itu harus dihilangkan? Alasannya adalah untuk membersihkan diri kita bayangkan oleh anda bila hati dan pikiran anda adalah sebuah kaca mobil yang membantu anda untuk bisa berpandangan jauh kedepan, lalu apa jadinya bila kaca mobilnya saja sudah tertutup debu tebal yang mengeras dan sukar untuk dihilangkan karena sudah lama tidak dihilangkan dan dibersihakan sehingga menghalangi pandangan anda dan pasti anda lambat laun akan menabrak sesuatu dan akhirnya jatuh terjungkal karena tidak bisa melihat dengan jelas arah jalan. Debu yang menghalangi pandangan anda itulah yang disebut “Mental Block” jika tidak segera dihilangkan debu itu akan mengeras dan sukar dihilangkan.
     Maka dari itu, bila anda ingin memulai sesuatu, baik itu dibidang bisnis atau apapun jangan didasari dan terhalang oleh “Mental Block” tersebut. Dasarilah keinginan anda itu dengan tujuan yang lebih mulia dan untuk kebaikan masyarakat sekitar anda. Butuh proses untuk menggapai semua tujuan anda. Namun itu bukanlah halangan bagi anda, Tuhan sekalipun akan sangat senang dan mendukung tujuan anda jika tujuan anda untuk hal kebaikan melalui cara-cara-Nya yang tidak bisa kita sangka-sangka. Jangan lupa untuk selalu berdo’a karena kekuatan do’a sangat kuat dibanding segalanya. Kenapa saya begitu yakin akan hal-hal yang saya utarakan disini karena saya sendiri sudah dan sedang mengalami semuanya dan memulai semuanya. Itulaha segelintir pesan dan saran yang diutarkan kawan saya. Banyak hal sebenarnya yang mereka katakana namun saya bingung untuk memilinya dan membagikannya kepada anada. Tapi saya kira beberapa hal yang saya bagikan ini seudah mampu mencakup berbagai aspek dalam kehidpun anda dan bekal untuk mencapai impian anda. Terima kasih





Cerita dari seorang sahabat

    Saya mempunyai seorang sahabat dekat yang cukup akrab degngan saya. Dia sering sekali mencurahkan isi hatinya kepada saya, ia selalu berkata bahwa saya ini adalah seorang pendengar yang baik. Sahabat saya ini adalah seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi sederhana yang berada di Bogor, saya tidak satu kampus dengan dia. Saya berteman dengannya sejak saya masuk bangku kuliah. Ia seorang teman yang sangat baik bagi saya namun selalu diliputi oleh setiap masalah dalam kehidupannya dan terkadang ia tidak bisa menyelesesaikannya dan meminta saran kepada saya. 
     Sahabat saya ini terkadang menemui saya untuk mencurahkan keluh kesahnya dan kali ini saya akan mencoba untuk mendeskripsikannya kepada anda tapi tentu saja hal ini sudah mendapat persetujuan dari sahabat saya ini. Disuatu ketika saya bertemu dengannya dan ia mulai menceritakan tentang masalahnya yang kini sedang ia alami. Ia berkata bahwa kali ini ia sedang mengalami masalah dengan teman-temannya yang sudah cukup lama ia kenal dan menurutnya teman-temannya adalah teman-teman terbaik yang ia miliki dimana hampir semuanya bersatu melebur dalam suatu kegembiraan dan kebersamaan. Ia sering sekali memuji mereka di hadapan mereka dan kepada saya. 
 
    Ia pikir setelah selama ini mencari suatu pertemanan yang seperti halnya kekeluargaan akhirnya sudah ia temukan. Tapi sayang, semuanya itu tidak bertahan lama hanya selang beberapa bulan kemudian, ia memberitahukan kepada saya bahwa kekeluargaan yang ia bangun bersama teman-temannya ini telah berubah dan seolah-olah retak dan beberapa bagian hancur tidak berbekas. Hampir disetiap pecahan itu berkumpul masing-masing menjadi sebuah bentuk baru dan itu tidak hanya satu, tapi cukup banyak. 
     Beberapa bentuk itu berdiri sendiri, tanpa mau kembali lagi bersatu menjadi bentuk awal yang utuh dan sempurna. Entah apakah benar beberapa dari bentuk itu tidak mau kembali seperti semula atau mungkin mereka ingin namun tidak berani dan terhalangi beberapa hal lain, sehingga seperti terlihat tidak mau kembali menyatu untuk dapat kembali ke bentuk awal. Itulah menurutnya masalah yang saat ini menganggu pikirannya dan terkadang selalu terbayang keadaan dimana ia dan teman-temannya ini saling berkumpul bersama tertawa gembira melebur dalam suatu ikatan. Ia mengatakan kepada saya, ia selalu rindu akan hal itu dan selalu saja teringat kebersamaan dengan teman-temannya ketika melihat foto-foto dulu. Ia sangat sedih dan terpukul akan hal ini, ia sendiri telah mencoba untuk membuat mereka bersatu lagi, namun tujuannya ini mungkin tidak sejalan dengan apa yang dipikirkan teman-temannya sehingga sahabat saya ini memutuskan untuk berhenti melakukannya dan mencoba untuk menghormati kebijakan, kesibukan, keseharian, dan privasi masing-masing temannya. Ia berpikir mungkin inilah jalan satu-satunya, karena percuma bila tadinya suatu api yang besar tiba-tiba padam dan hanya sebagian yang menyala tidak akan berhasil untuk membuat api yang besar lagi, perlu sekali bantuan dan dorongan agar nantinya api yang kecil dapat kembali menjadi besar. 
     Saya sebagai sahabat baiknya hanya bisa membuat teman saya tenang dan mendengarkan saja. Ada satu hal yang selalu sahabat saya harapkan dari teman-temannya yaitu agar mereka kembali bersatu lagi karena kalau boleh jujur sahabat saya ini adalah orang yang menyendiri. Di rumahnya ia tidak banyak memiliki teman yang bisa dikatakan mempunyai hal yang dimiliki teman-temannya dulu. Ia begitu kesepian hanya memiliki beberapa teman saja yang bisa dikatakan cocok dengannnya. Ia berkata terkadang di kampus ia merasa selalu sendirian hanya ditemani buku bacaan, buku tulis dan sebuah bolpoin. 
    Ia melihat disekitar kampus dan melihat beberapa temannya yang lain berkumpul dan tertawa gembira, ketika melihat hal itu dia sangat sedih namun tak bisa untuk mengungkapkannya apalagi melampiaskannya karena takut teman-temannya akan sedih juga. Ia hanya bisa membayangkan dan tersenyum manis kepada setiap orang karena ia ingin setiap orang yang ada di dekatnya merasa bahagia ujarnya kepada saya. Mungkin segitu saja hal yang bisa saya utarakan dari cerita sahabat saya, sebetulnya banyak hal yang sahabat saya ceritakan kepada saya mungkin saya akan membagikan yang lainnya kepada anda di lain waktu.
     Dari cerita sahabat saya ini, saya mengambil kesimpulan bahwa tidak selamanya teman itu sesuai dengan apa yang kita harapkan dan kita idam-idamkan. Kita harus pandai dalam memilih teman, bukan saya mengajarkan kepada anda untuk memilih-milih teman. Tapi dalam kenyataannya teman-teman dekat anda nantinya yang akan mengantarkan anda kepada pintu gerbang kesuksesan anda, dan ingat jangan memilih teman berdasarkan harta/kekayaan yang ia miliki karena suatu saat bisa saja ia lebih kaya dari anda. Maka dari itu pilihlah teman yang satu pemikiran dengan anda dan bisa membuuka wawasan anda dan juga ia memiliki teman-teman yang bisa membantu anda dalam meraih impian-impian anda.

 
 
 

Saturday, 31 August 2013

Teman

        Kata ini memang sudah tidak asing lagi untuk kita. Kata ini mengingatkan kita akan seseorang atau beberapa orang yang selalu berada di dekat kita dan kabarnya teman ini selalu ada untuk kita pada ssaat kita sedang suka maupun duka. Setiap orang pasti mempunyai teman yang mereka bilang selalu ada untuk mereka. Entah mengapa, saya terkadang sering merasa kesepian, padahal saya mempunyai banyak teman. Lalu kenapa kesendirian ini selalu mengganggu saya. Salah seorang dosen saya pernah berkata bahwa teman sejati itu tidak pernah ada yang ada hanyalah teman biasa dan hanya teman saja tidak ada tambahan dan pengurangan kata di dalamnya. Teman adalah orang yang paling sering bersama kita di luar rumah, terkadang. Menurut beberapa orang yang saya temui mereka mengatakan bahwa teman lebih dari teman dekat atau pacar. 
 

         Beragam spekulasi beredar mengenai pendapat ini dan tentu saja tentang teman. Ada yang bilang bila kita kehilangan pacar itu hanya segelintir masalah kecil tetapi kalau kita kehilangan teman itu adalah masalah yang besar. Karena tanpa anda sadari teman itu dapat membantu kita dalam hal apapun, termasuk dalam hal pembukaan jalur bisnis agar meluas ke pasaran, namun kadang kita menyepelekan kehilangan seorang teman, tapi apakah anda sadar ketika satu orang teman kita hilang maka teman-teman kita yang lain pun akan ikut hilang dan menjauihi kita tanpa kita sadari penyebabnya maka itu akan menjadi masalah yang amat sangat besar. Saya sendiri tidak pandai dalam berteman, karena beberapa teman saya entah mengapa belakangan ini lebih memilih teman lain dibandingkan saya.

     Saya pun demikian tidak tahu pasti apa penyebabnya, saya bukan bermaksud untuk menjadi oranng yang sombong atau angkuh, tapi saya hanya menyadari satu hal bahwa beberapa teman saya yang menjauhi saya itu mungkin dikarenakan mereka tidak cocok dengan saya dan memilih orang lain dibanding saya itu spekulasi saya entah itu benar atau salah saya tidak tahu. Tapi mungkin mereka tidak cocok dalam segi pandangan dan juga sikap ataupun hal lainnya. Saya pernah memiliku beberapa orang teman yang sangat saya sayangi sampai-sampai saya merasakan bahwa mereka adalah keluarga saya yang kedua, tapi lama kelamaan selang beberapa bulan kemudian rasa kekeluargaan itu mulai memudar tanpa sebab.

      Sejak saat itu saya mulai berfikir bahwa setiap orang mempunyai plihannya sendiri untuk memilih teman, dan saya pun mulai melakukan hal yang sama. Teman itu adalah orang yang dapat membantu perkembangan kita. Kita bisa baik dan sukses di dunia ini bila kita berteman dengan orang-orang yang memang mendukung kita menuju visi kita dan teman-teman yang memang bermanfaat untuk kita sendiri, namun sebaliknya bila kita berteman dengan orang-orang yang memang buruk dan tidak membawa pengaruh positif terhadap diri kita maka kita akan buruk pula. Seperti halnya pepatah lama mengatakan “Jika kamu berteman dengan pedagang minyak wangi, maka kamu akan ikut wangi, minimal sekalipun yaitu merasakan/mencoba memakai minyak wangi tapi sebaliknya bila kamu berteman dengan pandai besi maka kamu akan ikut terkena barahnya atau minimalnya pun kamu pasti bau besi”

      Jadi mulai dari sekarang, plihlah dan bijaklah dalam memilih teman tapi bukan berdasarkan harta/martabatnya tapi dari segi perlaku dan pendangannya bukan bertindak jahat/memilih-milih tapi untuk kehidupan kita di masa depan.
 
 
 
 
 

Thursday, 22 August 2013

Kebersamaan

    Kebersamaan hanyalah rasa yang indah saat kita bersama-sam dalam rasa yang sama yaitu Kebersamaan. Banyak orang yang menginginan kebersamaan, tentunya kebersamaan yang bahagia. Tapi terkadang kita melupakan kebersamaan ini dengan hal lain yang menurut saya tidak penting. 

 

    Kebersamaan biasanya disangkut pautkan dengan kebahagiaan dan kesenangan. Tetapi ada kalanya ketika kita dalam suatu kebersamaan ada juga diantara yang ada dalam kebersamaan itu tidak merasa bahagia malahan sedih atau bahkan kontra dengan apa yang disebut dengan kebersamaan yang indah. Anda pasti akan bertana kenapa bisa seperti itu dan anda mungkit akan beranggapan kalau hal itu tidak akan terjadi pada saat kebersamaan itu sedang berlangsung, semua orang yang ada di dalam kebersamaan semua orang akan merasa bahagia. Itu tidak salah memang dan juga tidak selalu benar, tapi perlu diingat bahwa tidak semua orang bisa merasakan rasa kebahagiaan itu di dalam kebersamaan yang sedang berlangsung.

       Hanya "beberapa orang" saja mungkin yang akan merasa bahagia. Saya berkata demikian karena saya sendiri pernah mengalami dan saya melihat beberapa orang yang berada di sekeliling saya. Kerbersamaan itu singkat terjadi dan singkat juga dilupakan. Saya terkadang berfikir kenapa itu harus terjadi pada saat orang lain merasa bahagia dalam suatu forum "KEBERSAMAAN" beberapa orang merasa terkucilkan. Tidak hanya orang-orang disekitar saya saja, tapi saya sendiri pernah mengalami hal itu. Anda mungkin akan beranggapan bahwa kalau saya dan orang-orang yang terkucilkan hanya orang-orang yang tidak mau bergabung bersama yang lainnya yang sedang merasa bahagia dan senang. 

         Itu terkadag benar dan terkadang juga salah, kenapa saya bisa bilang begitu karena beberapa orang yang terkucilkan itu mungkin sudah membaur dengan yang lain, tetapi mereka tidak diperhatikan sehingga mereka mengurungkan niat mereka dan akhirnya mereka merasa jera untuk melakukan hal yang serupa. Saya membuat artikel ini bukan tidak suka dengan kebersamaan, tapi saya mengingatkan kepada anda pembaca semua bahwa sesuatu yang di dapat dengan singkat akan dengan singkat juga hilang dari hadapan kita. Terus jaga kebersamaan anda bersama keluarga, teman-teman anda dan rekan-rekan kerja anda. Banyak manfaat yang bisa anda dapat dari itu semua.

 

 

 

 

Hanya sekedar berbagi, tidak lebih.


Tuesday, 6 August 2013

Pentingkah orang tua meluangkan waktu untuk anaknya??

Pertanyaan inilah yang sering muncul di benak saya, dan mungkin juga di benak anda semua. Seberapa pentingkah orang tua meluangkan sedikit waktunya untuk anaknya?
Ada mungkin yang bilang sangat penting, dan adapula yang bilang mungkin tidak teralu penting asalkan anak itu merasa menikmatinya. Kalau menurut saya waktu dengan sang anak itu sangat amat penting untuk orang tua. Itu berguna untuk menjaga komunikasi antar anak jadi kita tahu dengan siapa dia berteman, sedang sibuk mengerjakan apakah dia, apa saja masalah yang ia hadapi sekarang ini.
Saya juga jadi teringat sebuah cerita yang berhubugan dengan hal ini, yang  dibuat teman saya dan dishare disebuah situs jejaring sosial.

Ceritanya seperti ini :

Pada suatu hari ada seorang ayah yang akan berangkat bekerja disebuah kantor ternama. Ayah ini kegiatannya sangat sibuk sekali, ia jarang sekali bercengkrama dengan anaknya yang umurnya kira-kira 5 tahun. Karena ia berangkat saat sang anak masih tertidur dan pulang ketika sang anak sudah tertidur. Di suatu pagi, sang anak tumben sekali sudah bangun ketika sang ayah akan berangkat bekerja. Lalu sang anak mulai berbincang dengan ayahnya.

Anak : “Yah, aku boleh minta 20 ribu tidak yah?”
Ayah : “Untuk apa uang sebanyak itu, kamu kan tidak akan pergi kemana-mana buat apa uang itu?”
Anak : “Yah, boleh tidak aku meminta uang 20 ribu?”
Ayah: “Untuk apa sih, kamu meminta uang sebanyak itu kepada ayah? Sudah ayah mau berangkat ke kantor dulu” (sedikit agak membentak)

Di pagi itu sang anak gagal untuk meminta uang kepada ayahnya, yang ia dapat hanya bentakan dari ayahnya yang pagi itu buru-buru sekali pergi ke kantor. Hari pun mulai berlalu waktu demi waktu terlewati di sore itu tidak seperti biasanya sang ayah pulang ke rumah sore hari karena biasanya ia pulang malam hari. Di sore hari itu ketika sang ayah pulang, sang anak sudah menunggu kedatangannya di depan pintu. Ia mulai mengajak ayahnya untuk berbicara pada saat ayahnya sedang melepaskan sepatu.

Anak : “Selamat datang ayah”
Ayah : “Iyah” (suara agak lesu)
Anak : “Yah, aku boleh minta sesuatu sama ayah?”
Ayah : “Hmmmhh, apa itu” (suara agak malas)
Anak : “Yah,bolehkah aku meminta uang 20 ribu kepada ayah”
Ayah : “Lagi-lagi kamu minta uang 20 ribu, untuk apa uang sebanyak itu untuk kamu yang masih kecil?” (mulai marah)
Sang anak tidak menjawab pertanyaan ayahnya
Anak : “Ayah bolehkah aku meminta uang 20 ribu kepada ayah?”
Ayah : “Memangnya untuk apa kamu minta uang sebanyak itu, kamu tidak tahu apa bahwa mencari uang tidak mudah, jangan kamu sepelekan hal ini”(sang ayah mulai membentak sang anak)

Sang anak tidak menjawab apa-apa, dia hanya menunduk. Lalu tiba-tiba setelah ayahnya selesai melepas sepatu dia menarik tangan sang ayah dan mengajaknya ke kamarnya. Dibukanya bantal yang ada di tempat tidur, dan di bawah bantal tersebut terdapat uang 10 ribu. Anak itu mengambilnya, dan memperlihatkan kepada ayahnya. Wajah sang ayah semakin terlihat sangat marah.

Anak : “Yah, aku mempunyai uang 10 ribu dan bolehkah aku meminta uang 20 ribu kepada ayah?”
Ayah : “Kamu mau membeli apa? Uang sebanyak itu untuk apa? Kamu itu masih kecil tidak baik mempunyai uang banyak2 apalagi sebanyak itu” (membentak sang anak)

Sang anak tidak menjawab, dan lalu mulai bertanya kepada ayahnya.
Anak : “Ayah, aku hanya mau bertanya kepada ayah. Berapa rupiah kah waktu ayah dalam setiap jamnya?”
Ayah : “Waktu ayah perjam 30 ribu”
Anak : “Ayah, aku memiliki uang 10 ribu dan aku membutuhkan 20 ribu lagi yang aku pinta pada ayah pagi tadi. Jika ayah memberikan uang itu, aku ingin sekali membeli waktu ayah 1 jam saja, untuk bersama deganku yah, aku kangen ayah, aku ingin sekali bermain bersama ayah”

Sang ayah tidak dapat berkata apa-apa, raut wajahnya yang sangat marah kini berubah menjadi wajah penyesalan yang amat mendalam kepada anaknya. Sang ayah lalu memeluk erat hangat anaknya sambil menangis, yang ada di benaknya saat itu adalah kenapa ia terlalu bodoh untuk menyianyikan waktunya untuk bersama anaknya yang “katanya ia sayangi” dan mengorbankan seluruh waktunya untuk mencari uang dan tidak menyisakan satu jam pun untuk bersama anaknya. Di hari itu sang ayah mulai tersadar dan berfikir.

Anak : “Ayah, kenapa ayah menangis? Apakah aku berbuat salah kepada ayah,  sehingga ayah menjadi sedih?” Sekarang yah, bolehkah aku membeli waktu ayah? Aku ingin sekali bermain bersama ayah 1 jam saja yah”
Ayah : (tersenyum kecil, sambil mengusap air mata) “Tidak nak, kamu tidak bersalah. Ayah yang bersalah karena ayah sibuk dan tidak mempunyai waktu untuk bermain denganmu nak. Maafkan ayah nak. Kamu tidak harus membeli waktu ayah, karena seluruh waktu ayah akan ayah sisihkan untuk bermain bersamamu nak. Nak besok pagi kita akan bermain bersama seharian. Ayah akan menemanimu kemanapun yang kamu mau”
Anak : “Benarkah itu yah? aku sangat senang sekali yah mendengarnya, kalau Ayah itu mau bermain denganku.Terima kasih Yah. Aku sayang sekali sama ayah”
Ayah :”Iyah nak, sama-sama. Ayah juga senang sekali bisa bermain denganmu besok nak. Ayah bangga mempunyai anak yang pintar seperti kamu. Ayah juga sangat sayang kepadamu nak” (mengusap rambut anaknya)

Setelah itu sang Ayah mulai mengajak anaknya bermain bersama di dalam rumah. Selepas itu sang ayah lalu menggendong anaknya menuju kamar tidur sang anak, karena hari mulai gelap dan menidurkannya. Di kala  sang ayah  menidurkan sang anak, anak itu hanya tersenyum dan memeluk erat tangan ayahnya. Dia mengigau dan berkata "Aku sayang ayah". Sang ayah pun lalu menjawab dengan suara agak pelan dan berkata "Ayah juga sayang kamu nak". Itulah cerita singkat yang dapat saya sampaikan dalam bentuk cerita sederhana namun penuh arti.

Dari cerita di atas kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa anak itu masih sangat sekali perhatian dari kita sebagai orang tuanya. Penting sekali orang tua bisa meluangkan waktu untuk anaknya. Jangan kita terbuai dengan uang yang kita cari, dan jangan menghabiskan waktu sebagai orang tua untuk mencari uang. Karena sebenarnya uang itu adalah hanya alat pemuas saja, jangan dijadikan patokan dalam kehidupan. Yang terpenting sekarang adalah keseimbangan antar sesama manusia dan tentu saja dengan anak anda.
Artikel ini hanya segelintir problematika yang dihadapi anak dan orang tua hampir diseluruh dunia. Jadi sangat penting bagi kita orang tua untuk meluangkan waktu untuk anak kita.